Tantangan Tradisi Membaca Generasi Milenial

Oleh : Sumaryono SE.Sy

Kepala Perpustakaan SMPIT Asy-Syukriyyah Tangerang

Kemajuan teknologi dan perkembangannya telah berdampak besar bagi kehidupan manusia di era modern saat ini. Salah satunya terjadi transisi dalam budaya membaca di semua lapisan masyarakat terutama generasi milenial. Di tangan mereka tidak lagi terlihat memegang buku tetapi lebih banyak terlihat memegang gadget. Jika dahulu Bung Hatta Berkata  “Aku rela di penjara asal bersama buku, karena dengan buku aku merasa bebas”. Namun pada saat ini generasi milenial  mungkin telah merubah statement tersebut dengan berkata “aku rela di penjara asal bersama gadget  karena dengan gadget  aku merasa bebas”.

Menurut survei yang dilakukan UNICEF bersama para mitra termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard menunjukkan bahwa sebanyak 98% generasi milenial tahu tentang internet dan 79,5% diantaranya adalah pengguna internet. Sedangkan dari data situs We Are Social  rata-rata mereka berselancar internet menghabiskan waktu 8 jam 36 menit per harinya. Disusul oleh Media Sosial dengan 3 jam 26 menit.

Telah tergambar aktivitas gadget mendominasi kehidupan keseharian secara umum generasi milenial. Maka tidak mengherankan data dari PISA (Programme for International Student Assesment)  Indonesia mendapatkan urutan ke 6 dari bawah, peringkat 75 dari 80 negara dalam kemampuan membaca, sains, dan matematika. Sedangkan Hasil survei UNESCO pada 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius (tinggi).

Kondisi budaya membaca orang Indonesia yang sangat memprihatikan terutama generasi milenial akan mengancam kemajuan bangsa dan negara di masa depan. Karena kualitas individu, kemajuan bangsa bahkan peradaban tidak terlepas dari kemajuan ilmu dan pondasinya adalah kebiasaan membaca.

Cerita tentang Elon Musk dengan  misi SpaceX-nya mungkin akan menguatkan kita akan pentingnya membaca. Ketika Elon Musk  yang tidak memiliki latar belakang dan pengalaman apapun tentang teknologi pesawat antariksa pertama kali memulai misi SpaceX,  banyak yang mentertawakan dan menganggapnya gila.  Namun, keraguan itu surut seiring dari misi SpaceX yang berhasil. Dari yang semula dianggap mustahil, orang-orang kini merasa penasaran dan ingin tahu, bagaimana dia belajar begitu banyak tentang roket dan luar angkasa.

Jawabannya sederhana:

“Saya membaca banyak buku.”

Bagi orang biasa, jawaban Elon Musk mungkin terdengar menggelikan. Memilih ilmu roket dan menjadikannya sebagai hobi membaca bukanlah hal yang biasa dilakukan orang normal. Tapi Elon Musk memang bukan orang biasa. Dia orang yang luar biasa.

Dalam sejarah kejayaan Islam Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi SAW dikenal sebagai orang-orang yang “sangat rakus ilmu”, orang-orang yang sangat mencintai ilmu. Bahkan pada masa setelah sahabat, Khalifah Al Hakam II memiliki koleksi buku pribadi sebanyak 600.000 buku. Para ahli sejarah menyebut masa pemerintahannya dengan “zaman emas kesusastraan Arab di Spanyol”

Generasi Milenial Hobi Baca

Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan, dampak negatif yang ditimbulkan oleh gadget tidak dapat disikapi dengan pendekatan yang frontal dengan melarang generasi milenial untuk menggunakannya. Karena hari ini dunia teknologi adalah milik mereka.

Langkah yang memungkinkan adalah pembatasan dan pengalihan. Pembatasan penggunaan gadget dilakukan agar seorang anak tidak mengalami kecanduan. Waktu kesehariannya habis digunakan untuk bermain gadget yang tidak bermanfaat. Seorang anak mesti di batasi untuk tidak diperkenankan  membawa gadget ke sekolah dan tidak menggunakannya saat belajar di rumah terkecuali memang sangat dibutuhkan untuk membantu belajar mereka. Begitu pula orang tua mesti mengingatkan  agar menghentikan aktivitas bermain gedgetnya saat waktu sholat sudah tiba.

Langkah yang kedua adalah Pengalihan merupakan sebuah cara agar gadget dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan belajar, membaca, menambah wawasan dan berdiskusi. Generasi milenial akan menjadi generasi yang memiliki banyak pengetahuan yang sangat cepat karena sekali klik mereka akan disuguhkan ribuan informasi, ilmu dan pengetahuan yang  masuk ke kepala mereka. Tugas orang tua, guru adalah mengarahkan agar mereka membaca situs-situs website  yang memberikan suguhan ilmu dan pengetahuan yang berkualitas. Selain itu kemunculan e-book dalam dunia literasi juga bisa dimanfaatkan oleh generasi milenial yang lebih memilih aspek kepraktisan dan kemudahan. Sehingga generasi milenial akan dapat merubah gadget menjadi lebih bermanfaat dan menjadikannya  sahabat bukan musuh.

Manfaat gadget yang digunakan sebagai aktivitas literasi bukan berarti generasi milenial harus meninggalkan buku cetak. Sebab gadget memiliki kelemahan dalam daya membaca tulisan,artikel dan ebook. Dengan cahaya yang dikeluarkannya membuat mata cepat lelah yang mempengaruhi kekuatan daya untuk membaca. Kegiatan membaca menggunakan gadget hanya memungkinkan untuk artikel-artikel pendek baik fiksi maupun non fiksi dengan berbagai tema dan penulisnya. Untuk tulisan dan buku yang memuat lebih banyak halamannya tetaplah diarahakan untuk membaca buku cetak karena buku cetak tidak mengeluarkan cahaya yang membuat kekuatan membaca seorang anak dapat bertahan berjam-jam.

Satu hal yang terpenting sebagai orang tua dan guru mesti menanamkan kebiasaan membaca buku sejak usia dini, diawali dengan membaca buku yang disenangi terlebih dahulu sampai membaca itu menjadi kebiasaan bahkan hobi. Sebab saat suatu pekerjaan jika sudah menjadi hobi maka pekerjaan itu tidak memberatkan dan tidak membosankan. Pekerjaan itu akan senang dan mengasyikkan untuk dilakukan berkali-kali.

Seseorang yang yang memiliki hobi memancing akan kuat berlama-lama seharian sekalipun tidak mendapatkan ikan. Dan orang yang tidak memiliki hobi memancing akan tidak bisa melakukannya bahkan menganggap orang yang memiliki hobi memancing itu sebagai orang aneh. Begitu pula jika seseorang telah memiliki hobi membaca maka membaca bukanlah suatu pekerjaan yang berat dan membosankan. Mereka  mampu berlama-lama bercengkrama dengan buku.

Maka sebagai orang tua dan guru seyogyanya membentuk anaknya agar memiliki hobi membaca agar generasi milenial kedepan dengan ilmu dan pengetahuannya mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapinya. Tanpa membaca maka generasi milenial akan terbawa arus negatif teknologi yang ditimbulkannya. Generasi milenial harus mampu menciptakan arus baru yang positif agar kemajuan teknologi mampu membawa kebermanfaatan untuk agama, bangsa dan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *