ISLAM DAN PENDIDIKAN ANAK DI RUMAH

Oleh : Said Ats Tsaqofy (Guru SKI SMPIT As-Syukriyyah)

Kebijakan “merumahkan” belajar dan bekerja sebagai dampak dari pandemi Covid-19 telah menyebabkan anak dan orang tua dapat berkumpul dan memiliki waktu yang banyak untuk berinteraksi. Artinya orang tua memiliki kesempatan yang baik untuk mendidik anaknya, setelah selama ini terabaikan dengan kesibukan mencari nafkah.

Orang tua sebagai madrasatul ula memiliki peran yang penting dalam pembentukan akhlak dan adab seorang anak. Menurut Ahmad Tafsir, “Pendidikan keimanan itu pada dasarnya dilakukan oleh orang tuanya.” Sebagaimana yang dicontohkan oleh generasi pilihan umat (Salafus Shalih). Caranya melalui pembiasan dan keteladanan. Nah, pembiasan dan keteladanan ini hanya maksimal dilakukan oleh orang tua, bukan sekolah atau guru agamanya.

Dalam Al-Quran Allah memerintahkan manusia agar menjaga dirinya dan keluarganya dari siksa api neraka. Perintah ini ditujukan kepada orang tua di rumah bukan kepada guru di sekolah, kiai di pesantren, atau guru agamanya. Jadi, tanggung jawab pembentukan iman, adab dan akhlak merupakan tanggung jawab orang tua bukan diserahkan sepenuhnya kepada lembaga formal sekolah.

Orang tua adalah orang yang menjadi anutan anaknya. Setiap anak, mula-mula mengagumi kedua orang tuanya. Semua tingkah laku orang tuanya ditiru oleh anak itu. Karena itu, keteladanan sangat perlu.

Ketika akan makan, misalnya ayah membaca Basmalah, anak-anak menirukan itu. Tatkala orang tuanya shalat, anaknya diajak sholat, sekalipun mereka belum mengetahui cara dan bacaannya.

Tatkala puasa Ramadhan, orang tua mengajak anaknya yang masih kecil untuk makan sahur, meskipun pada saat zuhur mereka sudah berbuka. Tatkala shalat Idul Fitri, anak anak dibawa ke lapangan atau masjid (meskipun mereka hanya ribut-ribut saja di sana, tetapi suasana suasana itu akan berpengaruh kepada mereka).

Tatkala ayah datang dari berpergian atau tatkala akan meninggalkan rumah, ucapkanlah salam. Begitu pula kita lakukan dengan ajaran-ajaran Islam yang lainnya.

Pokoknya, anak itu dilatih dengan cara meneladankan dan itu dibiasakan. Begitulah yang dilakukan Nabi Muhammad. Hasilnya keluarga nabi dan para sahabatnya menjadi orang-orang yang memiliki keimanan yang sangat kuat.

Sungguh beruntung dan berbahagialah orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu membantu orang tuanya, mendo’akan orang tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).

Demikian pula, kelak di hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga.

Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab,  “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).

INILAH SAATNYA ORANG TUA MENGAMBIL PERAN PENTING BAGI PENDIDIKAN ANAK DAN TUNAIKANLAH AMANAH INI DENGAN BENAR-BENAR MENGHARAP RIDHA DAN BALASAN DARI ALLAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *